Idealnya, informasi yang akurat tersedia lengkap saat kita hendak memutuskan sesuatu.Tapi….bahkan di era teknologi informasi seperti sekarang, ada saja berbagai faktor yang membuat kita dalam kondisi harus membuat keputusan tanpa informasi yang memadai. Dalam situasi seperti ini, Anda patut mengandalkan intuisi. Beberapa orang menyebutnya sebagai firasat atau feeling.
Intuisi adalah kemampuan untuk merasakan suatu fakta sebelum fakta tersebut benar-benar terjadi. Terdengar seperti peramal ya, tapi inilah salah satu anugrah yang Tuhan berikan untuk umat manusia. Contoh penggunaan intuisi:
- Para astronot NASA (ini lembaga ilmiah lho…) menghabiskan 90% waktunya untuk berlatih bereaksi secara intuitif
- Ray Croc membeli waralaba Mc Donalds dengan harga yang kelewat tinggi padahal uangnya tidak cukup untuk membeli waralaba tesebut. Tapi dia mengatakan ”Intuisi saya mendorong saya untuk tetap membelinya dan harus”. Firasat itu terbukti benar, Mc Donalds pertama kali hanya ada satu di California ,tapi sekarang sudah menjadi franchise yang mendunia.
- George Eastment, pendiri Eastment Kodak, menyatakan bahwa pada merk ”KODAK” yang melegenda itu, huruf ”K” muncul secara intuitif.
- Sam Walton pendiri Walt Mart menggunakan intuisinya ketika mendirikan sebuah toko pada 1962. Kini ada lebih 1.300 toko di seluruh dunia
- Riset dari New Jersey Institute of Tecnology menemuklan bahwa 80% pimpinan perusahaan yang mampu menghasilkan laba 2 kali lipat dalam 5 tahun menggunakan kemampuan intuitif
- John Mihalasky dan E Douglas Dean menemukan bahwa 80% CEO yang sukses memiliki intuisi di atas rata-rata
- Hasil riset International Inctitute for Management Lausanne Swiss,para manajer sukses menggunakan intuisi dalam mengambil keputusan sebagian besar bisnisnya
- beberapa orang saat berfirasat sesuatu, menunjukkan gejala fisik seperti bersin, mata berkedut-kedut, atau gatal-gatal
- cek di sistem informasi pemasaran Anda, berdasarkan data promosi terdahulu, lihat dampak 3 media sosial tersebut dan bandingkan: berapa jumlah yang mengunjungi web, berapa yang meninggalkan info kontak untuk ditindak lanjuti, dan berapa yang akhirnya membeli produk/jasa tersebut
- tidak punya sistem informasi pemasaran? lihat laporan riset/benchmark dari para ahli/pakar yang bertebaran di internet. sebisa mungkin cari laporan riset/benchmark untuk bidang industri yang serupa dengan perusahaan Anda
- Belum ada laporan riset/benchmark? tanyakan di forum diskusi online yang komunitasnya satu industri dengan perusahaan Anda
- tidak ada jawaban dari forum? cari industri lain yang pelanggannya memiliki perilaku yang hampir sama dengan pelanggan di industri perusahaan Anda
Begitulah terus menerus Anda mencari bukti untuk mendukung tebakan Anda tadi. Jika data-data yang ada ternyata tidak mendukung tebakan Anda (alias tebakan Anda salah), saatnya merevisi tebakan Anda sesuai data yang ada. Bukan merevisi data supaya tebakan tetep bener ya…hehe…
Supaya usaha pembuktian tebakan tersebut berjalan secara terstruktur, Anda bisa menggunakan teknik pohon isu (akan dibahas di tulisan berikutnya).
Seiring dengan waktu, jika siklus tebak-analisis untuk suatu jenis keputusan ini berulang berkali-kali, artinya Anda sedang membangun intuisi/firasat/feeling di jenis keputusan tersebut. Semakin banyak persentasi tebakan Anda yang benar, ini pertanda intuisi Anda telah terasah semakin tajam. Anda pun semakin cepat memutuskan dengan percaya diri.
Bagaimana dengan pengalaman Anda?
