Perubahan budaya kerja (kebiasaan dalam bekerja) akibat implementasi Teknlogi Informasi (TI) di dalam suatu organisasi adalah suatu keniscayaan. Para ahli bilang justru faktor inilah (manajemen perubahan) yang tersulit untuk mensukseskan implementasi TI. Alhasil investasi besar untuk TI seringkali menjadi mubazir karena tidak berhasil merubah budaya organisasi. Bagaimana mengatasinya?
Dalam pikiran sederhana saya, hanya ada 2 pilihan yang bisa diambil untuk merubah budaya kerja:
- persuasif alias dirayu : tunjukkan bekerja akan lebih mudah jika menggunakan perangkat TI
- represif alias dipaksa : atasan hanya akan menerima hasil kerjaan bawahan jika dikerjakan melalui perangkat TI
Mana yang lebih baik? Saya pilih keduanya.
Pendekatan persuasif saya amalkan SEBELUM uang digelontorkan untuk investasi membeli peralatan, membayar lisensi perangkat lunak, atau membayar konsultan TI. Adakan sosialisasi yang gencar untuk menjual gagasan “kita perlu berubah menjadi lebih baik” sampai tercapai komitmen “ok, mari kita mulai”.
Ketika perangkat TI SUDAH siap, selanjutnya, ya paksa aja
Pengguna yang menolak biasanya menuduh kelemahan sistem sebagai alasannya.Keluhan semacam: “…sistemnya tidak user friendly/ lelet /nge-repotin” dan lain sebagainya itu hal yang biasa.Tapi jangan khawatir, bahkan sistem TI secanggih Google/SAP/Oracle/Microsoft sekalipun pasti mempunyai kelemahan. Teruskan paksaan Anda
Kabar baiknya, menurut pengalaman pak Dahlan Iskan, di Indonesia ini dalam melakukan perubahan apapun komposisinya selalu tetap:
- 10% SUKA dengan perubahan menuju yang lebih baik (+)
- 10% BENCI dengan perubahan dan mencoba melawan supaya tetap dengan cara lama (-)
- 80% IKUT aja apa yang diinginkan atasan (+)
Jadi sebagai atasan, Anda sudah punya modal 90% bawahan yang ada di pihak Anda. Cukup mudah bukan menangani 10% sisanya
Bagaimana pengalaman Anda?
